Detail Berita

MAN 2 Samarinda Perkuat Pendidikan Inklusif

MAN 2 Samarinda Perkuat Pendidikan Inklusif

(Humas MAN 2 Samarinda) — MAN 2 Samarinda terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pendidikan inklusif. Upaya tersebut diwujudkan melalui pembinaan pegawai yang menghadirkan Kepala Subdirektorat Pendidikan Vokasi dan Inklusi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Anis Masykur, Kamis (29/10). 

Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Keagamaan MAN 2 Samarinda itu diikuti seluruh pendidik dan tenaga kependidikan. Mengusung tema “Penguatan Pemahaman Praktik dalam Mewujudkan Madrasah Inklusif di MAN 2 Samarinda”, pembinaan difokuskan pada peningkatan pemahaman dan peran pegawai dalam membangun lingkungan pendidikan yang ramah, berkeadilan, dan peduli terhadap keberagaman peserta didik. 

Kepala MAN 2 Samarinda, Sapini, dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran narasumber sekaligus mengajak seluruh pegawai menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum peningkatan kualitas pelayanan pendidikan. “Mari kita jadikan pembinaan ini sebagai motivasi bersama untuk meningkatkan semangat dan kualitas pelayanan pendidikan di MAN 2 Samarinda,” ujar Sapini. 

Sementara itu, Anis Masykur menekankan tiga hal penting yang perlu diterapkan pendidik dalam mendukung pendidikan inklusif. Pertama, membangun integrasi dan kolaborasi antarguru mata pelajaran untuk melahirkan inovasi pembelajaran. 

Kedua, menumbuhkan kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Menurutnya, pendidik harus terus belajar dan terbuka menerima pengetahuan dari siapa pun tanpa memandang latar belakang. 

Ketiga, menghindari pembelajaran yang terisolasi. Guru didorong meninggalkan pola kerja individual dan membangun ekosistem pembelajaran yang saling mendukung, terbuka, serta mengedepankan kebersamaan. 

Anis juga mengingatkan bahwa guru harus memiliki kesiapan menghadapi keberagaman kebutuhan belajar peserta didik. “Guru adalah learner (pembelajar), harus siap untuk menghadapi siswa inklusi,” tegasnya. 

Melalui pembinaan bertema penguatan moderasi dan kepedulian sosial tersebut, seluruh pegawai diharapkan semakin memahami tanggung jawabnya dalam memberikan layanan pendidikan tanpa diskriminasi. 

Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah MAN 2 Samarinda dalam membangun budaya kerja kolaboratif dan meningkatkan kesiapan pendidik melayani peserta didik dengan beragam kebutuhan belajar. Dengan demikian, pendidikan inklusif tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diwujudkan melalui praktik pembelajaran dan pelayanan sehari-hari. (ev)