Samarinda (Madrasah) – Perpustakaan Baitul Hikmah MAN 2 Samarinda kembali menghidupkan salah satu program tahunan unggulan bertajuk Saku Saharu (Satu Buku Satu Harapan Baru), Senin, (26/05). Program ini merupakan bentuk kepedulian sosial dalam bidang literasi yang mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan MAN 2 Samarinda untuk berbagi melalui sedekah buku.
Berbeda dari program sedekah buku pada umumnya, Saku Saharu tidak membatasi jenis buku yang disedekahkan, selama buku tersebut layak dibaca oleh pemustaka, khususnya siswa MAN 2 Samarinda dan bukan buku pelajaran. Buku fiksi, nonfiksi populer, pengembangan diri, motivasi, sejarah, kamus, biografi, dan majalah sangat dianjurkan sebagai bahan bacaan inspiratif yang memperkaya koleksi perpustakaan.
Kepala Perpustakaan Baitul Hikmah, Rinda Cahya M., menjelaskan bahwa setiap buku yang disedekahkan memiliki nilai lebih dari sekadar bacaan. “Setiap buku yang disedekahkan bukan hanya menambah koleksi, tetapi juga membawa harapan dan semangat baru bagi siswa. Lewat program ini, kita ingin menumbuhkan budaya berbagi ilmu dan cinta literasi di lingkungan madrasah,” tutur Rinda.
Menariknya, bagi guru atau tenaga kependidikan yang ingin berpartisipasi namun masih bingung memilih buku apa yang tepat untuk disedekahkan, Perpustakaan Baitul Hikmah juga menyediakan layanan konsultasi dan bimbingan literasi. Melalui layanan ini, perpustakaan memberikan rekomendasi jenis buku yang sesuai dengan minat siswa dan kebutuhan koleksi, sehingga setiap sedekah buku benar-benar bermanfaat dan tepat sasaran.
Kepala MAN 2 Samarinda, Sapini, mengapresiasi penuh program ini dan menyampaikan harapan agar gerakan ini terus berjalan konsisten setiap tahunnya. “Saku Saharu adalah salah satu langkah dalam membangun budaya literasi berbasis keikhlasan. Program ini bukan hanya mendidik lewat buku, tetapi juga mengajarkan nilai berbagi dan kepedulian. Saya berharap buku-buku yang disedekahkan menjadi jariyah ilmu yang bermanfaat bagi generasi penerus madrasah kita,” paparnya.
Meskipun diperuntukkan bagi civitas MAN 2 Samarinda, pihak perpustakaan juga membuka peluang partisipasi dari masyarakat umum yang ingin turut serta dalam gerakan literasi ini. Saku Saharu kembali hadir sebagai jembatan harapan dan inspirasi. Satu buku mungkin tampak sederhana, namun di tangan siswa yang tepat, ia bisa menjadi awal dari sejuta kemungkinan. (rc)